01 Januari 2017

Sebuah Halaman yang Berdebu





Aku pernah memimpikan sebuah tempat yang nyaman untuk disinggahi setiap hari. Tempat yang menenangkan untuk mengeluarkan isi hati, pikiran, juga mimpi-mimpi.

Lalu, di pertengahan 2009, aku membuat rumah ini. Sebuah halaman blog yang kuharapkan akan menjadi rumahku sendiri, tempat aku berbagi.

Pernah berjanji berkali-kali untuk mengisinya dengan rutin, tentang berbagai hal yang kualami. Berharap bisa menjadi rekam jejak yang bisa aku kenang dan kunikmati hingga nanti.

Namun, janji-janji tinggalah janji.
Pada kenyataannya, tempat ini hanyalah tempat persingahanku sesekali meskipun aku merindukan dan memikirkannya hampir setiap hari.

Sekarang mencoba untuk menulis kembali.
Mengisi rumah ini dengan berbagai cerita lagi.
Semoga lebih bersemangat setelah menemukan sebuah visi.

Ingin berbagi.
Ingin berarti.



Depok, Tahun Baru 2017


 

 

07 September 2016

Kenangan Bersama Bapak


Hari ini, empat hari sudah ayah mertua saya pergi untuk selamanya.

Meski telah ikhlas, tapi masih saja ada rasa sedih dan kehilangan saat berbagai kenangan bersama Bapak melintas kembali dalam ingatan.


Keluarga Besar H. Ahmad Sadeli

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk bisa mengenal dan memahaminya. Bapak mertuaku adalah Bapak yang sangat  baik, sabar, pendiam, tapi sangat perhatian. Meskipun tidak banyak bicara, tapi saya bisa merasakan betapa beliau sangat menyayangi kami semua.


Saya selalu ingat, saat kami masih tinggal di Kalimantan Selatan, beliau yang selalu tak sabar menanti kami pulang ke Cicalengka. Bila mendengar kami akan pulang, beliau akan intensif menelepon kami dari satu minggu sebelumnya untuk menanyakan, “Ita, jadi pulang? Jam Berapa dari Banjarmasin? Jam berapa sampai ke Bandung?” dan berbagai pertanyaan lainnya yang diajukan sebagai tanda rasa tidak sabarnya untuk segera bertemu dan menjemput kami di bandara.


Begitupun setelah kami tinggal di Depok, semua yang dilakukannya tak berubah. Beliau selalu menantikan awal bulan, karena di tanggal tersebutlah biasanya kami akan pulang. Dan seperti biasa, seminggu sebelumnya beliau akan menelepon kami dan menanyakan kapan kami akan pulang? jam berapa berangkat? Jam berapa akan sampai di Cicalengka?


Saat dalam perjalananan, beliau akan menelepon kami sepuluh menit sekali untuk menanyakan, “Ita sudah sampai di mana? Macet nggak?” 

Bila kami berangkat tengah malam, beliau tidak akan tidur semalaman karena ingin menunggu kami datang. Karena itu, sesekali kami akan membohonginya dan mengatakan akan berangkat pagi hari, supaya beliau tidak perlu begadang sepanjang malam hanya untuk menantikan kami datang, karena kami mengkhawatirkan kesehatannya. 


Kakek dan Ghea

Lalu, saat kami tiba di Cicalengka, beliau akan menjadi orang pertama yang  membuka pintu rumah dan menyambut kami di teras dengan senyum bahagia. Meski selama berada di sana Bapak tidak akan terlalu banyak bicara. Hanya mendengar saja sambil sesekali tertawa saat saya bercerita  tentang pekerjaan kami, tentang cerita dan tingkah lucu Ghea dan Andra.


Sebagai anak bungsu yang memiliki banyak kesamaan dengan Bapak, suamiku selalu tahu topik apa saja yang paling disukai oleh Bapak. Bila kalian sedang bersama dan berbagi cerita, mata Bapak akan tampak berbinar dan senyumnya mengembang sambil bercerita tentang pengalaman pekerjaannya di masa muda. Bapak adalah seorang kontraktor di Waskita Karya, dan pernah membangun banyak jembatan, jalan serta bangunan di berbagai tempat di Kota Bandung, Cirebon, Kalimantan, Banda Aceh, hingga Papua. Selain itu, bapak juga akan sangat bersemangat saat kami menanyakan tentang keluarga besarnya. Bapak senang sekali saat bercerita tentang adik/kakak dan keponakan-keponakannya yang sudah menjadi orang-orang hebat.



Kini, tak akan ada lagi senyuman Bapak yang menyambut kami di depan teras rumah. Tak akan ada lagi lambaian tangan Bapak yang mengantar kami setiap kali selesai liburan di sana. Tak akan ada lagi deringan telepon setiap sepuluh menit sekali dalam perjalanan kami pulang dan pergi dari Cicalengka.


Bapak, maafkan kami.
Bila belum memenuhi harapan Bapak.
Bila belum banyak membahagiakan Bapak.



Ghea dan Kakek

Kawah Putih, Andra & Kakek

Sekarang Bapak sudah kembali pada Sang Pencipta, Allah Swt.
Tapi kenangan kami bersama Bapak tak akan pernah hilang untuk selamanya.




Bapak adalah kesayangan kami. Sosok panutan bagi kami sebagai suami dan ayah yang penuh tanggung jawab, sabar, dan penyayang. Cermin bagi keluarga kami. Kami semua sayang dan akan selalu mendo’akan Bapak. Kami akan selalu mengenang dan merindukan Bapak. 

Semoga Allah Swt menerima amal kebaikan Bapak, mengampuni semua dosa-dosa Bapak, dan menempatkan Bapak di tempat terbaik di sisiNya dan semoga kelak kita bisa berkumpul lagi di jannahNya. Aamiin YRA

07 Agustus 2016

Memulai Dengan Menghargai Diri Sendiri


Penghargaan merupakan hal yang sangat penting bagi saya, karena penghargaan bisa menjadi penyemangat dan sumber motivasi untuk melanjutkan pekerjaan lainnya dengan lebih baik lagi. Bagi saya, penghargaan tidak harus selalu dalam bentuk uang, jabatan, hadiah, atau penganugerahan secara seremonial. Tapi, ada penghargaan yang hanya cukup diberikan dalam bentuk senyuman, pelukan, atau ucapan terima kasih saja, misalnya saat ada orang yang membantu memberikan saran dan solusi dari masalah kita. Atau, bisa juga dengan memberikan kesempatan mengikuti beasiswa, training, dan pelatihan lainnya karena seseorang telah menyelesaikan pekerjaannya secara loyal dengan kualitas kerja yang baik.
Saat diberi kesempatan untuk terus mengembangkan diri, saya merasa dihargai.


Namun, seringkali masih ada orang yang kurang peka terhadap pentingnya arti penghargaan bagi orang lain. Atau, malah kita sendiri yang tidak menyadari betapa pentingnya arti sebuah penghargaan dan pengakuan terhadap diri kita sendiri. 

Misalnya, suatu kali saya pernah menjadi seorang Ghost Writer. Saya membantu seorang tokoh publik untuk menyelesaikan proyek buku pribadinya dengan bayaran yang cukup tinggi untuk ukuran seorang penulis. Awalnya, saya bersemangat sekali membantu melakukan riset, wawancara, mencari data primer dan sekunder, membuat outline, dan menuliskannya menjadi sebuah buku. Saya mengerjakannya dengan senang hati karena saya memang senang menulis dan bercita-cita ingin menjadi penulis buku. Selain itu, kebetulan orang yang saya bantu adalah salah satu orang yang cukup saya hormati dan dikenal oleh masyarakat, jadi saya mengerjakannya dengan penuh kesungguhan dan dedikasi yang tinggi. 

Tapi, saat buku tersebut terbit dan di launching dengan acara yang cukup besar, entah mengapa saya jadi merasa sedih dan sakit hati. Bahkan, setiap kali saya berjalan-jalan ke toko buku dan melihat sampul buku itu dipajang di salah satu rak, hati saya langsung mencelos dan enggan melihatnya lebih lama lagi. Awalnya saya tidak memahami kenapa perasaan itu muncul, karena sejak awal saya mengerjakannya dengan bahagia dan penuh semangat. Bahkan, sebagai seorang Ghost Writer, saya juga sudah tahu sejak awal kalau nama saya tidak akan ditulis di bagian cover maupun di bagian lainnya di dalam buku tersebut. Tapi, entah mengapa perasaan itu kerap kali muncul setiap saya melihat buku tersebut.

Saat bisa memahami diri sendiri, kita jadi bisa menghargainya.

Belakangan, saya merenung dan berusaha memahami perasaan saya. Saya bertanya pada diri sendiri tentang apa yang membuat saya jadi merasa tidak nyaman terkait hal ini. Lalu, saya menemukan jawabannya. Ternyata saya merasa sedih karena nama saya tidak dicantumkan sebagai penulisnya. Meskipun sudah mendapatkan honor yang cukup besar untuk ukuran seorang penulis, tapi ternyata itu bukan bentuk penghargaan yang saya harapkan. Bagi saya yang selalu bercita-cita ingin memiliki buku karya sendiri, dengan nama saya tertulis di sampul depannya, menyaksikan buku yang saya tulis tanpa menyertakan nama saya , rasanya memang menyesakkan.

Setelah memahami permasalahanannya, saya langsung mengubah cara berpikir dan perilaku saya. Alih-alih melanjutkan kesedihan, saya jadi termotivasi untuk terus berkarya lebih baik lagi supaya tulisan-tulisan saya bisa dilirik oleh penerbit, meskipun saya masih penulis pemula yang belum memiliki “nama” alias belum dikenal. Saya mengambil hikmah dari kejadian ini, karena dengan menjadi Ghost Writer, saya jadi menyadari bahwa ternyata saya memiliki kemampuan untuk menulis buku. padahal sebelumnya saya hampir menyerah untuk mengirimkan buku kepada penerbit karena pernah mengalami penolakan. Karena itu, akhirnya saya semakin bersemangat untuk terus menulis, mengikuti berbagai pelatihan tentang cara menulis buku, dan terus ikhtiar mengirimkan naskah saya ke penerbit.

Ternyata, saya bisa jadi penulis! #Bedah buku "Terjebak di Dunia Maya" di Gramedia Depok

Alhamdulillah, kerja keras ini akhirnya membuahkan hasil. Pada Oktober 2015, buku pertama saya terbit dan langsung disambut hangat oleh masyarakat. Saya bahagia sekali saat melihat nama saya tercantum di sampul buku, dan profil singkat saya ada di bagian belakangnya. Meskipun royalti yang saya dapatkan jauh lebih sedikit dari honor saya sebagai seorang Ghost Writer, tapi nilai kebahagiaan yang saya rasakan jauh lebih besar dan bermakna. Dari kasus ini saya belajar memahami, bahwa penghargaan tidak selalu harus berasal dari orang lain, tapi bisa juga berasal dari diri kita sendiri. Dan penghargaan tertinggi tidak harus selalu dalam bentuk uang, tapi juga dari cara kita mengenali diri sendiri, memahami keinginan dan perasaannya, lalu memilihkan jalan kebahagiaan yang diinginkan oleh hati dan jiwa kita.

Saat kita menghargai diri sendiri, orang lain akan menghargai kita.

Jadi, saat ini saya masih terus menulis dengan tujuan untuk berbagi ilmu, pengalaman, dan cerita. Bila ada yang meminta saya untuk menjadi Ghost Writer, saya secara halus akan menolaknya dan menawarkan untuk membantu membimbing mereka semampu saya, supaya mereka bisa menuliskan karyanya sendiri. Saya merasa lebih dihargai dengan cara seperti itu. Selain menulis buku, saya juga menulis berita online, menulis artikel untuk koran dan majalah, serta mengikuti beberapa lomba penulisan. Seperti saat ini, saya sedang mengikuti lomba keren dari Sodexo Indonesia yang memberikan penghargaan berupa Voucher Belanja Sodexo yang bisa digunakan untuk berbelanja di Merchant Sodexo. Pada akhirnya, saya menyadari, saat kita bisa memahami keinginan dan impian-impian kita, maka kita akan mampu menyelesaikan pekerjaan itu dengan rasa bahagia dan sepenuh hati. Sedangkan untuk urusan honor dan rejeki, saya yakin nanti akan mengikuti. 

31 Juli 2016

Serunya Lebaran bersama Genk Paraponakan

Lebaran selalu jadi momen istimewa yang selalu dirindukan. Saat masih kecil, ada banyak hal yang membuat saya selalu menantikan Hari Lebaran. Selain senang karena akan mendapatkan baju baru, uang baru, dan hidangan lezat yang berlimpah, saya juga senang dengan nuansa kehangatan di malam takbiran. Biasanya, saat suara takbir terus bergema di beberapa masjid dekat rumah kami, satu persatu anggota keluarga yang merantau akan kembali pulang ke kampung halaman sambil membawa banyak oleh-oleh dan cerita.


Lebaran Seru bersama Genk ParaPonakan

Sebagai anak-anak, saya biasanya akan duduk di tengah-tengah mereka, mendengar mereka bercerita tentang suka dan duka bertahan hidup di perantauan dan jauh dari keluarga. Sambil terkantuk-kantuk, saya dan beberapa anak lainnya yang masih bersaudara, biasanya akan memaksakan diri untuk tetap duduk atau bermain di sana hingga menjelang dini hari. Ada saja yang kami lakukan, misalnya: bermain kembang api, main petak umpet, jajan ke warung, membantu memasukan beras ke dalam wadah ketupat, dan sebagainya. Bila telah lelah dan tak sanggup lagi menahan kantuk, biasanya kami akan tidur di atas tikar atau karpet di ujung ruangan, sambil berharap suasana semarak dan hangat itu akan berlangsung untuk selamanya. 



Semoga selalu bisa merayakan lebaran bersama mereka.


Kini, puluhan tahun sudah berlalu sejak masa itu. Sekarang saya sudah dewasa, sudah menikah dan punya dua putri, Ghea dan Andra. Tapi, entah mengapa, kenangan masa kecil tentang kesyahduan dan semaraknya Hari Lebaran, masih mendominasi sebagian besar ingatan. Hal ini membuat saya dan suami semakin menyadari bahwa kenangan indah di masa kecil akan memberi kesan lebih mendalam dibandingkan fase-fase lainnya dalam kehidupan. Karena itu, untuk lebaran tahun ini, kami berdua memiliki rencana untuk menjadikan lebaran lebih berkesan untuk kedua putri kami, serta seluruh keponakan. Maklum, dalam beberapa lebaran sebelumnya, biasanya mereka jarang bercengkrama atau bermain bersama. Karena hampir semua saudara Ghea dan Andra (GheAndra), kedua putri kami, telah memiliki gadget, sehingga biasanya mereka jadi lebih asyik berada di dunia maya. 



GheAndra bersama beberapa saudara sepupunya, Genk Paraponakan


Beruntung, liburan lebaran kali ini berlangsung cukup lama yaitu sekitar sepuluh hari, jadi kami bisa lebih leluasa untuk membuatkan beberapa agenda yang seru sekaligus syahdu untuk GheAndra dan para keponakan kami di kampung halaman, Cicalengka, Kabupaten Bandung. Untuk memulai keseruan ini, pertama-tama kami membuat tema kegiatan, yaitu "Abring-abringan bersama Genk Paraponakan". Karena saya dan suami sama-sama berasal dari keluarga besar, maka kami memiliki banyak sekali keponakan yang totalnya berjumlah 32 Orang. Wow!


Paraponakan Ayah

Paraponakan Bunda


Inginnya, kami mengajak mereka semua bersama-sama dalam setiap acara. Namun, karena keterbatasan sarana transportasi (tidak semua keluarga memiliki kendaraan roda empat), serta adanya perbedaan usia yang cukup signifikan antara keponakan tertua dan termuda, akhirnya kami memutuskan untuk membagi dua rombongan, yaitu rombongan keponakan Ayah dan keponakan Bunda. Kedua rombongan ini bergantian mengikuti berbagai aktifitas yang kami buat seperti i'tikaf dan tarawih keliling di beberapa masjid, membuat acara sahur dan buka puasa bersama, ngabuburit seru sama-sama, dan beberapa kegiatan wisata setelah hari lebaran tiba.


Rencana seperti ini merupakan hal baru bagi keluarga besar kami. Karena keluarga besar kami jarang sekali bisa berkumpul dengan lengkap. Maklum, ada yang merantau ke luar pulau bahkan luar negeri, sehingga tidak selalu setiap lebaran bisa pulang kampung. Karena itu, momen seseruan ini benar-benar kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memberikan kesan kepada keluarga besar kami.


Buka bersama keluarga suami. Langka banget bisa ngumpul semua full team.

Saat liburan sebelum Hari lebaran, kami sengaja tidak terlalu membuat banyak aktifitas. Beberapa kegiatan dibuat di sekitar rumah dan masjid saja seperti i'tikaf dan tarawih bersama. Selebihnya, kami membuat kue-kue lebaran, berbelanja, dan membantu kakek dan nenek membuat ketupat. Di malam takbiran, kami mengajak anak-anak berkunjung ke rumah tetangga dan saudara lainnya sambil mengantarkan beberapa makanan. Tujuannya, supaya mereka mengenal anggota keluarga lainnya, dan merasakan hangatnya kebersamaan di malam takbiran.




Setelah hari pertama lebaran, kami langsung tancap gas mengajak mereka wisata alam. Sengaja kami perkenalkan dengan alam supaya mereka tidak berkutat terus menerus dengan televisi dan gadgetnya. Tujuan pertama adalah berjalan-jalan ke daerah Pangalengan. Sengaja memilih tempat ini karena ada pemandian air panas dan kebun teh Malabar. Perjalanan ke tempat ini luar biasa menguras tenaga kami, karena jalanannya macet dan berkelok-kelok, sehingga anak-anak banyak yang mual dan pusing. Tapi, keindahan alam sesampainya kami di sana, membuat semua lelah dan penat itu hilang. 


Pangalengan

Di hari kedua setelah lebaran, kami melanjutkan wisata ke dua tempat yang berbeda, yaitu Gunung Kareumbi dan Pangjugjugan. Kedua tempat wisata itu ada di daerah Sumedang. Karena lebih dekat dari rumah kami di Cicalengka, maka kami memulai wisata pagi dengan berjalan-jalan ke daerah Gunung Kareumbi yang tempatnya berada di atas tempat wisata kebanggan desa kami, Curung Sindulang. Di sana, kami mengajak anak-anak untuk survey lokasi,  karena kami akan mengadakan acara camping keluarga besar di tempat ini. Jarak dari rumah kami ke tempat ini ditempuh dengan mobil sekitar tiga puluh menit, yang dilanjutkan dengan berjalan kaki. Anak-anak terlihat senang berlarian dari satu tempat ke tempat lainnya. Beberapa keponakan yang jarang bertemu, saat itu mulai langsung akrab satu sama lain. Keponakan yang lebih besar memandu adik-adiknya yang lebih kecil. 

Mencari lokasi camping di Gunung Kareumbi

Setelah dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke Pangjugjugan di daerah Cilembu, Kabupaten Sumedang. Kami sudah beberapa kali wisata ke tempat ini, karena selain jaraknya yang dekat, pemandangannya yang asri, permainannya yang lengkap, juga karena harganya yang sangat terjangkau. Pokoknya, cocok banget untuk yang bawa banyak pasukan seperti kami hehehe.


Berenang hanya Rp. 5000 di Saung Pangjugjugan :)


Sebenarnya, kami masih ingin mengajak anak-anak berwisata ke Garut. Tapi, kondisinya yang luar biasa macet ditambah dengan cuti tambahan yang kami ajukan ditolak oleh kantor, maka kami mengurungkan rencana itu. Kami berharap bisa melanjutkan semua rencana yang tertunda itu di lain waktu, atau di lebaran tahun depan (InshaAllah, semoga masih ada jatah usia. Aamiin). Yang jelas, momen lebaran tahun ini lebih berkesan dari tahun-tahun sebelumnya, karena GheAndra jadi lebih dekat dengan sepupu-sepupunya, dan momen kebersamaan ini saya rasa cukup berhasil untuk membuat mereka jadi dekat dan terhindar sementara dari kecanduan terhadap games dan gadget.

Itulah keseruan saya mengajak Ghea dan Andra (GheAndra) untuk bermain bersama Genk Paraponakan. Sekarang kami sudah kembali lagi ke Kota Depok, memulai berbagai rutinitas dan aktifitas lain seperti biasanya. Sambil berharap bisa berjumpa dengan lebaran selanjutnya.


Sambil menanti lebaran tahun depan, saya mau mengisi hari-hari dengan kegiatan seru lainnya. Salah satunya adalah menghadiri acara  Hari Hijaber Nasional yang akan diselenggarakan Pada 07-08 Agustus 2016 di Masjid Agung Sunda Kelapa, Jakarta.

Yuk, kita datang sambil kopdar :)





18 Juli 2016

Tetap Syar'i dengan Celana Panjang

Memiliki bentuk dan ukuran tubuh yang berlebih alias gendut, memang menjadi tantangan tersendiri bagi saya, khususnya dalam memilih busana. Bila teman-teman saya yang kurus dan langsing bisa dengan mudah menemukan model-model baju yang fashionable dan kekinian, memadupadankannya dengan cantik tanpa kesulitan, lain cerita dengan saya.

Sejak dulu, memilih busana selalu jadi hal yang paling memusingkan bagi saya, apalagi bila saya harus memilih busana untuk tampil di acara-acara formal seperti jadi  Master of Ceremony (MC) atau pembicara. Pertama, saya akan kesulitan mencari motif dan model yang sesuai dengan selera saya. Kedua, saya sulit mencari ukuran yang pas untuk ukuran badan saya. Karena itu, boomingnya busana syar'i dalam beberapa tahun terakhir ini, rasanya seperti menjadi angin segar bagi saya, karena selain motif dan modelnya sangat banyak, ukurannya pun banyak yang muat untuk ukuran badan saya. Saya jadi punya banyak pilihan.


Foto: MatahariMall.com

Saya merasa sangat nyaman dengan pilihan berbusana saya yang menutup aurat dengan rapi. Tapi, sesekali saya merindukan memakai celana untuk bepergian. Selain terkesan simpel dan santai, memakai celana panjang juga memberi rasa leluasa dan nyaman saat dipakai dalam acara-acara santai seperti kumpul dengan teman-teman komunitas, jalan-jalan, wisata, dan bertualang di alam terbuka. Namun, saat memakai celana panjang, saya juga ingin tetap memperhatikan aturan-aturan seorang muslimah dalam berbusana. Saya tidak ingin memakai celana yang ketat dan menampakkan lekukan tubuh. Karena itu, saya mulai mencari lagi celana dengan model-model potongan yang longgar, yang dalam istilah saya disebut celana kulot. Supaya kulotnya tidak terkesan kolot, saya mulai mencari  model celana terbaru yang bahan dan warnanya cocok untuk usia saya.


Kulot dipadu kemeja, kereeen!


Supaya pinggangnya muat, apalagi kalau belinya secara online yang membuat kita tidak memungkinkan untuk mencoba ukurannya terlebih dulu, biasanya saya membeli celana berbahan jersey atau kaos (supaya bisa melar hehehe), dan ada karetnya di pinggang supaya elastis kalau nanti badan saya membesar lagi #Eh :D. 

Kalau sedang ingin tampil lebih simple dan casual, saya juga mencari model celana terbaru yang lebih slim dari bahan katun atau jeans supaya lebih chic. Sebenarnya saya sudah lama tidak memakai celana yang ngepas di badan, tapi saat ini sudah banyak dijual atasan-atasan tunik cantik yang panjang banget, jadi saya bisa leluasa memadukan celana dengan tunik, bahkan dengan outer yang panjangnya seringkali sampai di bawah lutut hingga mata kaki.


Celana skinny ini bisa dipadu dengan kemeja tunik panjang

Selain celana model skinny, saat ini sedang happening juga celana jogger. Hampir semua kalangan memakai celana jenis ini untuk dipadukan dengan atasan-atasan yang casual serta sepatu sneakers atau sepatu training. Celana jogger ini mempunyai ciri khas tersendiri, yaitu menggunakan karet pada opening leg-nya sehingga menyerupai celana training yang trendy.





Meskipun sekarang sudah jarang menggunakan celana untuk acara-acara, tapi saya senang dengan banyaknya model dan desain celana yang bisa membuat muslimah seperti saya bisa tampil modis dan penuh gaya. Apalagi dipadu dengan berbagai atasan panjang dan lebar yang saat ini banyak dijual di gerai-gerai online seperti di MatahariMall.com yang menyediakan ratusan ribu produk yang bisa dengan mudah kita pilih dan beli secara online. 

So, mau pakai baju apa hari ini? :)













22 Juni 2016

Saat Berjauhan dengan Anak


Sebagai seorang ibu yang bekerja, sesekali saya harus pergi dinas dan menginap selama beberapa hari di luar kota/luar pulau. Hal ini biasanya selalu membuat saya dilema dan merasa 'berat' karena harus meninggalkan anak-anak untuk beberapa waktu lamanya. Tapi, suami dan anak-anak (khususnya Si Sulung, Teteh Ghea) biasanya menenangkan.

"Gak apa-apa, Bunda. Teteh baik-baik aja. Bunda tenang aja. Kan nanti kalau pulang kita bisa main sama-sama lagi" Begitu biasanya cara dia menghiburku. Hingga aku bisa berangkat dengan lebih tenang dan menjalani tugas dengan fokus.




Sekarang, berbeda. 

Teteh Ghea yang berangkat 'dinas'.Dan, ternyata, rasanya kok lebih berat ya *emakmelow hehehe ...


Kemarin pagi-pagi sekali Ghea udah siap-siap. Dia semangat sekali mau ikut kegiatan Ramadhan Adventure. Dia akan pergi selama dua hari dan melakukan kegiatan-kegiatan seru & islami selama berada di sana.

Sebetulnya, sejak malam sebelumnya dia sudah sangat bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya. Dia sangat antusias karena ini adalah momen pertama dia ikut kemping dan menginap di luar tanpa ayah bunda. Tapi, saat akan pergi ke lokasi acara. Dia mulai terdiam. Dia terus menerus memeluk & ciumin Bunda dan adeknya, Baby Andra.

Semangat, lalu sedih, lalu semangat lagi #anak-anak



"Teteh pasti kangen Bunda. Kangen Ayah. Kangen Adek juga." Katanya, air matanya menggenang.

"Iya, Bunda juga. Tapi 'kan gak lama. Nanti kita ketemu lagi ya. Main sama-sama lagi." Ujarku sambil memeluk dan mengelus-elus kepalanya. Dia mengangguk dan tersenyum.

"Makasih Bunda udah bikin Teteh tenang," Katanya lagi. Sekarang air mata Bunda yang menggenang. Anak ini memang selalu saja menemukan kata-kata yang bijak, seperti lebih dewasa dari usianya.
Setelah saya menanyakan lagi apakah dia ingin tetap ikut sanlat atau tidak, dan jawabannya tetap ingin ikut, akhirnya dia berangkat. Saya mendo'akan untuk keselamatannya. Melambaikan tangan, memasang wajah tenang, dan terus tersenyum meski hati deg-degan.

Melepas anak untuk pergi tanpa kita rasanya kok aneh ya. Mungkin karena belum terbiasa, jadi perasaan kok bercampur aduk. Sepanjang hari saya memantau terus perkembangan dia di grup whatsapp sanlatnya, dan semaleman jadi terasa beda, seperti ada yang kurang tanpa dia.



Saat merasa kangen dan berdo'a, saya jadi membayangkan perasaan ibu saya saat dulu melepas kakak saya yabg baru lulus SD untuk sekolah di pesantren. Saya yakin saat itu mamah pasti merasakan hal yang sama dengan saya, tapi mamah tak pernah terlihat gusar, dia selalu tenang karena yakin anaknya ada di tempat yang tepat dan ada dalam lindungan Allah SWT. Hal ini membuat saya jadi lebih tenang.

Hari ini saya mendapat kiriman foto-foto Teteh Ghea selama mengikuti kegiatan Ramadhan Adventure. Dia bahagia sekali kelihatannya. Dia mengikuti semua acara dengan fun dan penuh tawa. Dia juga tampak terlibat aktif dan mau maju ke depan.
Bersama Caesar YKS. Mudah-mudahan bukan disuruh goyang Caesar karena Gea pasti tidak tahu hahaha




Alhamdulillah, saya jadi merasa tenang karena dia bisa melewati masa adaptasinya dengan cepat. 


Selamat bersenang-senang ya, Nak. Semoga menjadi anak yang shalehah dan pintar. Bunda do'akan selalu untuk keselamatanmu. Semoga sukses di dunia dan akhirat. Aamiin YRA.

15 Juni 2016

Menyerbu Pasar Tani di Kantor Kami


Hari ini ada yang berbeda di kantor saya. 

Selepas apel pagi, lapangan parkir balaikota sudah dipenuhi oleh pengunjung. Pagi ini memang ada kegiatan Pasar Tani yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Peternakan (Distankan) Kota Depok serta Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan-RI). Katanya, pasar tani ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan posisi tawar petani selaku produsen. Sehingga mereka bisa langsung memasarkan produknya kepada konsumen.



Suasana Pasar Tani Depok


Di Pasar Tani Depok, ada banyak sekali makanan dan penganan dari olahan ikan dan hasil pertanian para petani lokal Kota Depok yang dijual, mulai dari cabe keriting, daun pepaya, bawang merah, blewah, labu, pisang tanduk, bandeng dan cakalang presto, siomay ikan, otak-otak Bandeng, hingga ikan Dori dan aneka frozen food lengkap untuk bahan shabu-shabu. Nyam, langsung ngiler dan pengen segala dibeli, deh. Dan sesuai dengan namanya, di Pasar Tani ini semua makanan dijual dengan harga yang lebih murah. Makanya nggak heran kalau sejak lapak dibuka, pengunjung sudah berkumpul dan berebutan belanja. 


Aneka buah dan sayur yang dijual. Foto: Distankan


Buah segaarrr dan muraahhh. Foto: Distankan

Sebelum ikut bergerilya dan berbelanja, sebelumnya saya lihat dulu isi dompet, siapa tahu tidak ada isinya (maklum tengah bulan hahaha ...). Alhamdulillah, isi dompet aman. Jadi saya langsung ikut membaur dengan pengunjung lainnya untuk mengantri dan berebutan belanja (sambil berdo’a semoga tidak kalap).


Dipiliiihh ... dipiliihhh ...


Saya lihat, stand yang paling padat dan tak berhenti melayani pembeli adalah stand milik Distankan. Mereka menjual cabe keriting dan bawang merah dengan harga murah. Alhasil, sejak saya mulai hingga selesai belanja, stand ini tak berhenti dikerubuti pengunjung yang umumnya berasal dari kalangan PNS Kota Depok. 


Bawang merah Rp. 25.000,- Cabe Rawit Rp 16.000. Foto: Distankan



Pasar tani dan ikan ini menarik sekali bagi saya, apalagi digelar di Bulan Ramadhan. Di sini, selain bisa berbelanja makanan murah dan segar langsung dari petaninya, saya juga bisa ngobrol lebih banyak dengan para petani lokal Kota Depok. Seperti dengan Pak Samlawi dan Pak Nurjali misalnya, mereka adalah petani buah asal Bedahan. Mereka merupakan warga asli Kota Depok yang sudah 20 tahun bertani buah. Samlawi mengaku senang sekali dengan adanya gelaran acara Pasar Tani ini, karena dia bisa memasarkan hasil pertaniannya secara langsung kepada konsumen dengan keuntungan yang lebih baik.

Pak Samlawi dan Nurjali, petani asal Bedahan.

Selain Pak Samlawi, ada juga penjual frozen food dari bahan ikan bernama Melisa. Sebagai warga Depok, Melisa merasa senang ada pameran seperti ini. Dia berharap pameran bisa dilakukan lebih sering dan periodenya lama, karena ini menjadi ajang untuk mempromosikan produk-produk yang mungkin belum masuk pasar industri besar


Karena jam kerja sudah mulai, dan pekerjaan hari ini sudah menanti untuk digarap (sawah kali digarap), jadi saya memutuskan untuk menyudahi acara belanja produk lokal yang ekstra murah dan enak-enak ini. Berharap akan lebih sering digelar acara seperti ini, supaya para petani lokal bisa memperbesar pasar untuk memasarkan hasil pertaniannya dan semakin dikenal masyarakat. Maju terus para petani dan peternak lokal. 


Oiya, selain ada pasar tani, di Depok juga akan ada operasi pasar  murah untuk semua warga di setiap kecamatan se-Kota Depok. Berikut Informasinya:


Design by: DepokNesia


*.:Operasi Pasar Depok:.*

Paketan Rp40rb berisi
1. Minyak 1liter
2. Gula 1kg
3. Terigu 1kg
4. Sirop 1botol
5. Kacang Tanah 0.5kg

Tersedia pula beragam kebutuhan pangan lainnya dengan harga terjangkau..

_Hanya untuk warga masing-masing kecamatan_

*Rabu, 15 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Sawangan &
Kantor Kec. Bojong Sari

*Kamis, 16 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Limo &
Kantor Kec. Cinere

*Jumat, 17 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Beji

*Senin, 20 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Pancoran Mas &
Kantor Kec. Cipayung

*Selasa, 21 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Cilodong &
Kantor Kec. Sukmajaya

*Rabu, 22 Juni 2016*
Pukul 09.00
Kantor Kec. Tapos &
Kantor Kec. Cimanggis

_*Teknis penjualan diserahkan pada masing-masing kecamatan.